*

Minggu, 27 Februari 2011

Amanah Memakmurkan Bumi


Berikut ringkasan ceramah yang disampaikan oleh Dr Atabik Luthfi MA, Dosen Pascasarjana IAIN Nurjati Cirebon.
      “Dia(Allah telah menciptakan kamu dari bumi(tanah) dan menjadikan kamu sebagai pemakmurannya. Maka mohonlah ampunan dan bertaubatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku Maha Dekat dan memenuhi segala permintaan” (QS. Hud;61)
      Pakar ilmu tafsir, Al-Alusi, menjadikan ayat ini sebagai dalil tentang kewajiban memakmurkan bumi sesuai kemampuan setiap orang. Karena memang Allah SWT telah menjadikan bumi ini layak dan dapt dimakmurkan. Allah SWT juga menciptakan manusia yang menghuninya mampu untuk memakmurkannya.
      Karena itu, Ibnu Asyur, maksud daei kata “isti’mar” adalh aktivitas meramalkan bumi melalui penataan bangunan dan pelestarian lingkungan dengan menanam pohon dan bercocok tanam, sehingga semakin panjang usia kehidupan bumi ini beserta seluruh penghuninya.
      Pemahaman yang hamper sama juga dikemukakan Zamakhsyari dalam al-Kasyaf. Secara aplikatif, beliau mengabadikan kisah tentang raja-raja Persia yang banyak membuat sungai dan menanam pohon, hingga mereka diberi kesempatan yang lama oleh Allaah. Ketika seorang nabi bertanya kepada Allah tentang kejadian tersebut, “Mengapa Engkau berbuat demikian kepada mereka(memperpanjang usia mereka)?”  Allah menjawab, “Mereka telah menghidupkan bumi-Ku(dengan memakmurkannya), sehingga hamba-hamba-Ku dapat hidup dan baik diatasnya”.
      Namun sayang, upaya memelihara, mempertahankan dan meningkatkan kemakmuran bumi dengan segala aktivitasnya sering diabaikan, bahkan cenderung tidak diperhatikan serius. Akhirnya, banyak kekayaan milik negeri ini dihambur-hamburkan secara semena-mena, dan kita selaku pemilik bumi ini pun tak pernah menghiraukan, mempertanyakan, meminta bertanggungan jawab.
      Secara umum ayat diatas berbicara tentang ketiga manusia, yaitu peran imarah dalam arti mengelola dan memakmurkan bumi untuk kepentingan dan kemaslahatan bersama. Peran inti ini tak kalah penting dengan peran inti penting lainnya, yaitu peran ubudiyyah dan khilafah.
      Peran imarah sangat terkait dan mel;ekat secara sinergis dengan dua peran lainnya. Bahkan peran ini merupakan bentuk nyata dari aplikasi ubudiyyah dan khilafah terdapat pada aktivitas memakmurkan bumi Allah.
      Ayat lain yang berbicara tentang imarah adalah QS A-rum;9 “Dan tidaklah mereka bepergian di bumi lalu melihat bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka(yang mendustakan Rasul). Mereka itu lebih kuat dan telah mengolah bumi serta ma=emakmurkannya melebihi dari apa yang telah mereka makmurkan.”
      Melalui ayat ini, Allah menggambarkan tentang kaum terdahulu sebelum umat Muhammad SAW yang dipanjangkan usianya oleh Allah dengan kekuatan fisik dan banyaknya aktivitas ‘imarah yang mereka lakukan. Tak ada yang menandingi kekuatan fisik dan aktivitas ‘imarah mereka. Bagaimanapun, Allah mendustakan karunia nikmat dan risalah para Rsul-Nya.
      Rasulullah SAW member perhatian terhadap upaya memelihara kesinambungan kehidupan dengan program ketahanan pangan, sungguh sangat besar. Hal ini terbukti dengan wujud perintah dan anjuran kepada umatnya untuk bercocok tanam memenuhi hajat manusia.
      Bahkan Rasulullah SAW nenganjurkan di antara amal sebelum hari kiamat adalah menanam biji tumbuh-tumbuhan. Seseorang dapat melindungi dirinya dari sentuhan api neraka, hanya dengan menanam sebiji kurma sekalipun.
      Dalam riwayat Muslim dari Sahabat Jabir ibn Abdullah ditambahkan, sekiranya tanaman itu dicuri oleh seseorang, ia tetap akan menjadi pahala sedekah untuk orang yang menanamnya.
      Sahabat Mu’awiyah turut mencontohkan aktivitas imarah ini dengan banyak menanam pohon di akhir hayatnya. Ketika ditanya alas an perbuatannya itu, Mui’awiyah melantunkan sya’ir : “Bukanlah pemuda jika tidak memiliki sesuatu yang dapat menaunginya kelak.kan pula seseorang yang tidak memiliki peninggalan di bumi ini (sepeninggalanhya).”
      Begitulah sikap moral yang ditunjukkan para generasi terdahulu. Mereka berlomba-lomba menanan dan member peringatan yang terbaik untuk kemaslahatan generasi berikutnya. Semboyan mereka yang patut kita teladani adalah : “Orang-orang sebelum kita telah banyak menanam untuk kita makan. Maka kita juga menanam agar orang-orang setelah kita dapat memakannya.” Qad gharisa man qablana fa’akalna, wa naghrusu nahnu liya’kulu man ba’dana”.
      Sungguh kontradiktif realitas sekarang yang kita dapati. Banyak orang justru berlomba mengeruk hasil bumi untuk memerkarya diri sendiri namun mengabaikan sisi kelestarian, ketahanan dan kemakmuran bumi. Akibatnya, terjadilah banyak bencana alam yang mengurangi dan memperpendek usia kehidupan manusia.
      Bahkan kokoh untuk berjalannya aktivitas imarah dalam segala bentuknya adalah amanah. Agar program ‘imarah demi kemaslahatan bersama berjalan baik, maka setiap orang dituntut unutk memahami, mempertahankan dan mengembangkan prinsip amanah ini.
      “sesungguhnya Allah memerintahkan kalian semua agar menyampaikan amanah kepada ahlinya (yang berhak menerimmanya).”(QS. An-Nisa’;58)
      Sudah saatnya umat Islam, lebih menonjolkan peran imarah yanga akan dirasakan hasilnya oleh manusia di bumi. Orang yang paling baik adalah orang yang paling banyak memberi manfaat kepada orang banyak, sesuai dengan sabda Rasulullah, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak member manfaat kepada sesama manusia” (HR al-Bukhari).
      Kita sebagai remaja, bahkan kita juga sebagai umat Islam sudah seharusnya menjaga titipan Allah, melestarikan apa yang diberikan oleh-Nya.
      Sepertinya cukup, semoga ilmu ini bermanfaat bagi kita, begi seluruh uman manusia, amin.

0 komentar: